Muslimkah Kita ?

BOLEHLAH ini dibilang babalagaan. Tahun baru ini, saya pengin ngambek sama diri sendiri. Sudah satu tahun, kesombongan, kepongahan, rakus, dendam dan lainnya, masih meringkuk di dada saya. Terlebih ketika secara tak sengaja membaca Fathul Bari, di bagian-bagian awal, salah satu hadis Nabi Saw serasa menampar-nampar. Baiklah, kalau pun ada yang juga merasa tertampar dengan tulisan saya, mari main tampar-tamparan, betapa selama ini berislam kita hanya sekadar lawakan. Ya, kayaknya, belumlah muslim kita ini.

__________

Masjid Agung Kota Tasik (21/08/2020)

MUSLIMKAH KITA?
Kiki Musthafa

TAHUN baru 1442 Hijriyah. Semoga menjadi tahun yang berkah. Awal yang indah. Baik untuk diri sendiri. Juga, tentunya, untuk semua umat muslim. Di mana saja. Di semua tempat yang ayat-ayat Allah terlantunkan di sana. Juga semua sahabat-sahabat non-muslim. Semoga merasakan berkahnya Muharram. Islam itu indah. Ajarannya, syari’at-nya. Karenanya, orang Islam suka keindahan. Indahnya kebersamaan. Indahnya kekeluargaan. Indahnya pelukan dan rangkulan hangatnya persaudaraan. Indahnya ukhuwah dalam syiar dan dakwah. Indahnya ucapan. Indahnya sikap. Indahnya pemikiran. Indahnya kebangetan. Itulah Islam.

Sebuah hadis yang diriwayatkan al-Bukhari, seakan menjelaskan syarat untuk hal indah tersebut. Memang di matan-nya tidak disebutkan secara langsung. Namun, substansinya mengena tak tanggung-tanggung. Sabda Rasul, “Al-muslimu man salima al-muslimuna min lisanihi wa yadihi, wa al-muhajiru man hajara ma naha Allahu ‘anhu.” Kata hadis ini—jika dikonversi dalam terjemah bebas—yakni seorang muslim itu adalah mereka yang selamat lisan dan tangannya. Lalu, seorang yang berhijrah itu adalah mereka yang berpindah dari sesuatu yang dilarang oleh Allah.

Pertama, man salima al-muslimuna min lisanihi wa yadihi. Tangan dan lisan adalah eksekutor. Produk keduanya mendeskripsikan produk hati dan pikiran. Hati dan pikiran yang jernih, tertampak dari lisan dan tangan yang bersih dari ucap dan sikap yang buruk. Jika hati dan pikiran dipenuhi kesombongan dan keserakahan, kepongahan dan kebencian, dendam dan permusuhan, dusta dan kebohongan, licik dan kezaliman, topeng dan kepalsuan dan hal pikarujiteun lainnya, tangan dan lisannya dipastikan sulit terselamatkan. Penuh dengan madarat—bagi dirinya juga bagi yang lain. Seorang muslim tidaklah demikian.

Manusia sombong cenderung akan merendahkan orang lain. Merasa bebas melakukan apa pun sembari menganggap orang lain lemah dan bodoh. Ia tidak rela dilangkahi. Selainnya, harus berada di bawah telunjuk dan telapak kakinya. Karenanya, untuk urusan memiliki sesuatu hal, pasti serakah. Tak peduli orang lain terlukai, sikat, asalkan dapat. Watak turunan dari sombong adalah pongah yang terbiasa membenci. Lalu, mendendam yang tak rela bersahabat. Kemudian berkata bohong untuk melanggengkan kelicikan dan melestarikan kezaliman. Ia hidup dengan topeng, agar kehinaan dan kelemahannya tertutupi.

Kedua, man hajara ma naha Allahu ‘anhu. Indikator seorang yang berhijrah adalah berpindah—menjauh dan pergi—dari hal-hal yang dilarang Allah. Dengan kata lain, memindahkan diri dari melakukan sesuatu yang dilarang menuju sesuatu yang dicintai Allah. Berpindah dari sombong, pongah, dendam, dusta dan palsu, menuju rendah hati, perangai lembut, pemaaf, jujur dan tidak menjadi manusia boongan. Hijrah berarti menjadi sebenar-benarnya manusia yang diklaim Allah sebagai khairu ummah. Teknisnya, ta`muruna bi al-ma’rufi wa tanhawna ‘an al-munkari wa tu`minuna bi Allahi. Itulah sebaik-baiknya hijrah.

Bohong kalau seandainya hijrah, tetapi setengah-setengah. Hijrah tidak hanya di pakaian, tetapi di ucapan yang baik, lelaku perbuatan yang elok dan pikiran yang jernih. Karenanya, mereka yang hijrah akan menyadari kelemahannya. Terbuka pada nasihat dan pengajaran orang lain. Jika salah segera meminta maaf. Jika benar tidak menyalahkan orang lain. Ia paham betul, setiap detik adalah momentum hijrah. Ia meng-upgrade amalan baiknya setiap saat. Tak ada waktu untuk menjadi manusia sombong, pongah, dendam, dusta dan palsu. Baginya, hal sedemikian itu adalah komedi, sebuah lawakan, nanaonan.

Selamat tahun baru 1442 Hijriyah. Mari menjadi sebenar-benarnya muslim dengan memperindah ucap, sikap dan lelaku perbuatan. Buang kesombongan dan keserakahan, kepongahan dan kebencian, dendam dan permusuhan, dusta dan kebohongan, licik dan kezaliman, topeng dan kepalsuan dan hal pikarujiteun lainnya. Hijrah sesegara mungkin agar tidak terlihat lucu, dijieun tina cai mani ge balagana jiga Firaun—diciptakan dari air mani saja sombongnya seperti Firaun. Jadi, selama ini sudah muslimkah kita? Allahumma shalli ‘ala Sayyidina Muhammadin wa ‘ala alihi wa shahbihi ajma’in.[]

Leave a comment

Your email address will not be published.

*