MENUNDA HAJI

Masjid Agung Kota Tasik (26/06/2020)

Ditulis dua minggu lalu, semoga masih relevan dan bermanfaat.

___________

MENUNDA HAJI
Kiki Musthafa

SANGAT kecewa. Amat pasti demikian. Perasaan saudara-saudara kita. Tahun ini seharusnya berangkat haji. Gara-gara corona, harus tertunda. Tulisan ini memontumnya sudah lewat. Menteri Agama mengumumkannya satu bulan lalu. Namun, semoga saja ada keajaiban. Tiba-tiba minggu depan dunia sembuh. Corona lenyap. Semua tempat dinyatakan steril. Bersih tanpa virus. Termasuk di Saudi Arabia. Termasuk pula di Makkah al-Mukarramah. Termasuk pula di Madinah al-Munawwarah. Lalu, Menteri Agama meralat kata-katanya. Pemerintah bergegas dan bersiap. Calon jemaah haji tetap berangkat. Tahun ini. Karenanya, saya menulis ini sekarang. Siapa tahu diaminkan malaikat.

Mang Abdul. Bukan nama asli. Namun, kisahnya nyata. Saya ceritakan sekarang. Berumur sudah senja. Ya, sekira 80 tahun. Dua belas tahun ia daftar haji. Mimpi yang sejak lama ada dalam doa-doanya. Awalnya, ia daftar bersama istri. Sayang, dua tahun setelah daftar. Istrinya meninggal. Sedih tak terkira. Tak apa. Mang Abdul ikhlas. Allah menghajikan istrinya di surga. Ia yakin itu. Seyakin-yakinnya. Namun, petaka baru tiba. Tahun 2018. Dua tahun lalu. Ia berobat alternatif. Maksud hati ingin menyegarkan tubuh. Maklum sudah tua. Bercucu sepuluh. Sialnya, sepulang berobat kakinya bermasalah. Menjadi kaku. Menjadi lumpuh. Ia sedih. Dua tahun lagi harus sembuh. Ia akan berhaji.

Berbagai cara dilakukan. Berobat lagi ke tempat lain. Tentu, hati-hati. Jangan sampai justru tambah parah. Semua anak-cucunya ikut memikirkan. Agar Mang Abdul kembali bisa berjalan. Tak terhitung berapa dokter. Tak tercatat berapa terapis jempolan. Tak terdikte berapa klinik pengobatan. Baik medis. Baik herbal. Baik alternatif lagi. Baginya, ikhtiar yang keras adalah doa. Ia sedang ingin membuktikan kepada Allah. Bahwa ia sudah berjuang. Bahwa ia tak henti berdoa. Ia ingin segera sembuh. Ia ingin kakinya berfungsi lagi. Bisa berangkat haji. Ibadah dengan khusyu’ di tanah suci. Mang Abdul ketua DKM Masjid Jumat. Didoakan pula oleh orang-orang sekampung. Setiap Jumatan.

Sampai tiba bulan Rajab, tahun ini. Empat bulan sebelum jadwal pemberangkatan. Kakinya belum juga normal. Semakin sedih. Bagi Mang Abdul, empat bulan serasa empat hari saja. Sungguh, jarum jam seperti kilat. Melesat-lesat. Hari di kalender pun seperti angin. Cepat sekali berpindahnya. Ia nyaris menyerah. Empat bulan berselang. Empat minggu lalu. Menteri Agama mengumumkan penundaan pemberangkatan haji. Sebentar ia sedih. Rasa-rasanya, pakai kursi roda pun ia bisa berhaji. Namun, ia agak lega. Ditunda hingga tahun depan. Membuatnya bisa kembali melatih kakinya untuk berjalan. Ia tahu. Allah punya rencana lain. Terlebih, corona belum benar-benar hilang.

Rencana baik Allah di balik penundaan haji. Bukan hanya untuk Mang Abdul saja. Untuk Mang Sabri. Untuk Bi Eti. Untuk Ceu Kokom. Untuk Ki Hamid. Untuk Ma Isoh. Untuk Jang Eman. Untuk Neng Siti. Untuk semua yang secara administratif sudah dinyatakan boleh berangkat. Tentu, tadi itu bukan nama asli. Disamarkan. Agar orang tidak tahu. Namun, semua tahu mereka sedih. Benar-benar sedih. Kecewa sekali. Apa daya. Pemerintah tidak memperbolehkan. Ada madlarat yang membahayakan. Sangat berisiko. Tenang saja. Bukan membatalkan. Hanya menunda. Sampai dunia benar-benar sembuh. Sampai semuanya aman. Agar ibadah hajinya khusyu’ dan mambur tahun depan.

Terlepas dari semua. Tentu kita berharap ada keajaiban. Seperti saya tulis di paragraf pertama. Tetiba corona hilang. Kehidupan kembali normal. Tidak perlu pembatasan sosial. Tidak perlu normal baru. Kembali ke normal biasa. Normal yang senormal-normalnya. Seperti sedia kala. Lalu, Mang Abdul, Mang Sabri, Bi Eti, Ceu Kokom, Ki Hamid, Ma Isoh, Jang Eman dan Neng Siti, bisa berangkat haji tahun ini. Dilepas orang-orang kampung dengan peluk dan air mata. Berdiri sepanjang jalan sambil dadah-dadah. Diarak pakai angkot dengan shalawat dan gemuruh bacaan talbiyah. Malaikat, aminkan, ya. Allahumma shalli ‘ala Sayyidina Muhammadin wa ‘ala alihi wa shahbiji ajma’in.[]

Leave a comment