Hari Kiamat

Masjid Agung Kota Tasik (03/06/2020)

HARI KIAMAT
Kiki Musthafa

SUATU ketika, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallama berceramah di hadapan para sahabat. Tiba-tiba seorang a’rabiy—lelaki pedalaman Arab—menginterupsi. Ia berusaha menyela pembicaraan Rasul dengan satu pertanyaan, “Mata al-sa’ah—kapan hari kiamat?” Rasul membiarkan pertanyaan tersebut. Sebagian mengatakan bahwa Rasul mendengarnya, tetapi beliau tidak suka. Sebagian lagi, bahkan, mengatakan Rasul tidak mendengarnya sama sekali. Namun, Rasul tetap menjawab pertanyaan si a’rabiy yang ngeselin tersebut. Tentu, setelah Rasul menyelesaikan ceramahnya.

“Aina arahu al-sail ‘an al-sa’ah—di manakah gerangan kudapati seseorang yang bertanya tentang hari kiamat?” tanya Rasul setelah menyelesaikan ceramahnya. Terbayangkan bagaimana saat itu Rasul mengitarkan pandang. Mencari seseorang yang menyelanya saat berceramah. “Ha ana ya Rasulallah—sayalah orangnya wahai Rasulullah,” jawab si a’rabiy. “Faidza dluyyi’ati al- amanatu fantadhiri al-sa’ah—ketika amanah diabaikan, tunggulah hari kiamat akan tiba,” jawab Rasul dengan tegas. “Kaifa idla’atuha—lantas, bagaimana amanah itu diabaikan?” tanya si a’rabiy kemudian. Tampaknya, si a’rabiy belum puas dengan jawaban pertama Rasul.

Lalu, Rasul menjawab, “Idza wussida al-amru ila ghairi ahlihi fantadhi al-al-sa’ah—ketika sebuah urusan diserahkan kepada yang bukan ahlinya, tunggulah hari kiamat itu tiba.” Merujuk pada penjelasan syarah yang diungkapkan Ibnu Hajar al-‘Asqalani tentang hadis ini, terdapat tiga isyarat yang saling terhubung. Pertama, petunjuk etik bagi guru dan murid—adabu al-‘alimi wa al-muta’allimi—saat menerima atau mengajukan pertanyaan. Bagi seorang guru, jika ada yang bertanya ketika sedang menyampaikan ilmu, selesaikan dulu, lalu menjawab. Bagi seorang murid, tak elok bertanya di saat guru sedang menyampaikan ilmu.

Selebihnya, lepas dari adab menjawab dan bertanya, secara umum adab yang melibatkan guru dan murid amatlah kompleks. Di antaranya, wajib bagi seorang murid untuk menghormati gurunya—selagi tidak menyimpang dari aturan Syara`. Dahulu, banyak terkisahkan orang saleh yang menjadi alim dan bermanfaat karena ta’dhim terhadap gurunya. Namun, sekalipun banyak petunjuk yang mewajibkan murid hormat terhadap gurunya, tidak lantas menjadikan guru bersikap semena-mena. Guru harus pula menghormati privasi muridnya. Jangan mengekang. Jangan pula memperbudak. Demikianlah seharusnya guru beradab.

Kedua, tentang hari kiamat. Ini dipantik oleh pertanyaan si a’rabiy—tentang hari kiamat—ketika Rasul sedang berceramah. Dalam al-Qur`an, hari kiamat diidentikkan dengan keadaan yang tidak baik—yang terjadi di penghujung kehidupan dan keberadaan tatanan semesta. Di antaranya, yaum al-akhir (hari akhir), yaum al-din (hari pembalasan), yaum al-hasrah (hari penyesalan), yaum al-hisab (hari perhitungan), ath-thammatul qubra (bencana besar) dan lainnya. Namun, jika kiamat dimaknai majazi menyoal realitas kehidupan manusia saat ini, ia bermakna kegagalan, kesialan, keterpurukan, ketakseimbangan dan sebagainya.

Ketiga, tentang mengabaikan amanat karena dipikulkan kepada seseorang yang tidak memiliki kompetensi. Baik kompetensi ilmu atau kemampuan manajerial mengelola instansi tertentu. Amanat yang dimaksudkan di hadis yang terarsipkan di kitab Fathu al-Bari—pada bab tentang ilmu—tersebut berbicara tentang amanat yang terikat pada hajat orang banyak. Namun, sekalipun demikian, secara umum, amanat pun adalah sebuah titipan, terkait sesuatu hal yang dipinta satu pihak untuk dijaga pihak lainnya. Karenanya, menitipkan amanat harus kepada mereka yang memiliki kemampuan menjaga amanat tersebut.

Berangkat dari tiga isyarat di atas, sampailah pada satu kesimpulan yang sulit dihindari: Mereka yang tak beradab mulia terhadap gurunya atau guru yang aniaya terhadap muridnya, dipastikan tak memiliki kompetensi dalam mengemban amanah. Sekalipun cakap secara ilmu dan manajerial, bisa jadi jatuh secara moral. Karenanya, kiamat akan terjadi—fantadhiri al-sa’ah—apabila penghuni bumi diisi oleh guru yang dhalim terhadap muridnya dan murid yang su`ul adab terhadap gurunya, lalu khianat pada amanat yang dipikulkan umat kepadanya. Allahumma shalli ‘ala Sayyidina Muhammadin wa ‘ala alihi wa shahbihi ajma’in.[]

Leave a comment

Your email address will not be published.

*