JURUS TETAPI

JURUS TETAPI
Kiki Musthafa

BERSYUKUR seharusnya adalah perkara yang amat sederhana. Tidak perlu menjadi sesuatu hal yang rumit dan sulit. Tidak pula menjadi sesuatu yang harus diperumit dan dipersulit. Ia simpel, semudah membalik telapak tangan, seringan melangkahkan kaki tanpa beban. Hanya saja, tabiat manusia yang akrab dengan kerumitan dan kesulitan, membuat bersyukur menjadi terdampak berantakan. Dititipi banyak, minta lebih. Dititipi sedikit, uring-uringan. Diambil banyak, ngamuk. Diambil sedikit, ngeluh. Diberi sehat, maksiat. Diuji sakit, ngadat.

Tulisan kali ini pun ingin dibuat sesederhana bersyukur. Tidak perlu rumit. Tidak harus sulit. Karenanya, mari sejenak menghela nafas, lalu alihkan ingatan kita pada semua hal yang kerap membuat kita merasa terpuruk.Sebanyak mungkin, kalau perlu, silakan ambil pulpen dan selembar kertas—jika dirasa tidak cukup, bolehlah berlembar-lembar. Tuliskan apa saja yang membuat kita merasa kecewadengan apa yang selama ini terjadi pada diri kita. Bisa tentang keluarga, pekerjaan, mimpi dan harapan, ambisi dan keinginan, apa saja, silakan.

Jangan sampai ada yang terlewat. Jika perlu, dikte hari per hari, minggu per minggu, bulan per bulan, tahun per tahun. Jika pegal mencatat dengan sedetail itu, bolehlah dicatat per hari saja—toh kekecewaan selalu berumur panjang dalam ingatan kita. Sekali kecewa, muncul kekecewaan baru, lengkap dan semakin mengecewakan. Lain hal dengan kesenangan, sekali senang, muncul kesenangan baru, kesenangan yang lama akan hilang dan tergantikan. Karenanya, jangan khawatir, kekecewaan kita akanabadi dan tak mungkin terlupakan.

Formulasinya seperti ini. Tadi pagi, istri mengabari bahwa ayah mertua jatuh dari sepeda motor, tetapi alhamdulillah, hanya lecet biasa saja. Bayangkan, tetangga saya, tempo hari (hanya) terpeleset di halaman rumah, langsung meninggal di tempat. Menjelang siang, dompet saya hilang saat berkendara menuju tempat kerja, tetapi alhamdulillah saya masih selamat. Rekan kerja saya, lho, minggu lalu kehilangan dompet sekaligus kehilangan hidup, ia dibegal dengan dua sabetan celurit saat pulang kerja.

Bukankah di balik semua kesialan yang kita terima, sebenarnya kita masih lebih beruntung dari mereka? Mari dilanjut. Sore hari, sepulang kerja, beras di dapur hanya tinggal sekali nanak, tetapi alhamdulillah kami masih bisa makan dengan wajar. Dua jam lalu, ada pengemisyang membedah tong sampah untuk mengganjal perut dengan makanan sisa. Malam hari tiba, genting bocor dan membuat ruang tamu kebanjiran, tetapi alhamdulillah kamar kita masih aman. Di luar sana, berapa banyak tunawisma yang harus tidur beratapkan pepohonan?

Sejauh ini, masih alhamdulillah, kan?Selanjutnya, silakan buat formulasi yang sama, untuk hal terburuk lainnya yang mendera kita. Jika ingin dibuat acak, boleh. Saat bercermin, ternyata wajah kita tidak seganteng artis FTV, tetapi alhamdulillah kita sudah menikah dan laku, kan?Bukankah banyak artis yang galau karena belum berjodoh di usia yang tidak lagi muda? Kemarin, istri kita dinyinyiri karena tidak secantik beberapa selegram, tetapi alhamdulillah ia istri salihah yang konsisten menutup auratnya. Selesai? Lajut lagi, ah.

Belakangan kita merasa tidak seberuntung orang lain yang dititipi harta lebih, tetapi alhamdulillah meskipun hidup pas-pasan, pertolongan Allah selalu pas datang tepat waktu saat kita membutuhkan sesuatu hal. Banyak, lho, orang kaya yang justru stres karena kekayaannya dan Allah menelantarkan dirinya. Karir pekerjaan kita tampak stagnan, tetapi alhamdulillah gaji yang kita terima ternyata berkah, keluarga bisa makan, istri bisa dandan, anak bisa jajan. Pernah, kan, lihat mereka yang karirnya melesat, tetapi keluarganya berantakan?

Lagi? Cukup,ruang untuk tulisan ini dibatasi. Namun, silakan dilanjut sendiri,disesuaikan dengan problem masing-masing. Ungkap problem tersebut, sematkan tetapi dan alhamdulillah sembari melihat kenyataan terburuk yang dialami orang lain pada konteks problem yang sama. Amini saja bahwa apa yang Allah ujikan kepada kita, serumit dan sesulit apa pun itu, adalah perkara yang harus disyukuri. Percaya, sesulit dan serumit apa pun kita, tak seberapa, jika dibandingkan dengan apa yang orang lain terima. Allaahumma shalli ‘alaa Sayyidinaa Muhammadin wa ‘alaa aalihii wa shahbihii ajma’iin.[]

Leave a comment