Berdoa

BERDOA

Kiki Musthafa

 

INGATKAH kapan terakhir kali, merasa, doa kita terkabul? Besar kemungkinan kita lupa. Atau memang, tidak ingat secara jelas: Apakah terkabul sesuai yang kita pinta, atau justru tidak pernah merasa terkabul sama sekali.

Dalam Islam berdoa merupakan sebuah keharusan. Bahkan diperintahkan. Oleh karenanya, setiap doa sudah pasti terkabul. Bahkan, benar-benar terkabul sejak pertama doa tersebut dimunajatkan. Lantas, kenapa harus menunggu lama? Juga kenapa kerap berburuk sangka ketika doa tersebut tertunda?

Ini menjadi persoalan mendasar yang acapkali keliru dan disalahartikan. Berdoa bukan hanya tentang sebuah permintaan. Tetapi pula tentang waktu, dan selanjutnya—yang peling menentukan adalah tentang kepantasan. Ketiganya, kerap menjadi kunci diterima dan dikabulkannya sebuah doa.

Doa adalah sebuah permintaan. Dan permintaan untuk hal apa pun, sudah tentu disertai tujuan. Tujuan inilah yang tanpa disadari menjadi beban untuk turunnya ijabah ad-du’a dalam setiap permintaan yang dilangitkan—meskipun sekhusyu’ mungkin.

Berdoa meminta diberikan rezeki berlimpah, tetapi karena sakit hati sering dihina orang lain—dan tujuannya adalah dendam—tentu bukan doa yang baik, apalagi jika tidak disertai ikhtiyar. Lain hal, jika tujuannya adalah untuk menafakahi keluarga, agar terhindar dari kefakiran yang konon disinyalir selalu menjadi muasal dari berpaling kepada Allah. Intinya, berdoa untuk sesuatu hal yang baik menurut Allah dan Rasul-Nya.

Di sisi lain, berdoa pun tentang waktu. Ada beberapa waktu tempat dikabulkan segala doa. Dalam beberapa keterangan, di antaranya, adalah sehabis shalat fardlu, dan sehabis shalat tahajud di sepertiga malam. Jika berdoa di waktu tersebut, peluang untuk terkabulkannya doa kita sangatlah terbuka. Tetapi, dengan syarat sudah memenuhi kriteria pertama, tentang tujuan doa, dan kriteria terakhir selanjutnya.

Tentang kepantasan. Ya, ini kunci dari sebuah doa: Sebuah kepantasan. Jika tujuan kita berdoa sudah sangat baik. Dipanjatkan dengan khusyu’, dengan cara yang baik, juga di waktu terbaik. Maka, pantas atau tidakkah kita memunajatkan doa tersebut? Apakah pantas seorang pendosa meminta doanya dikabulkan, sementara ia dalam keadaan angkuh tidak ingin memperbaiki dan memantaskan diri di hadapan Allah dan Rasul-Nya?

Ingatkah kapan terakhir kali, merasa, doa kita terkabul? Besar kemungkinan kita lupa. Atau memang, tidak ingat secara jelas: Apakah terkabul sesuai yang kita pinta, atau justru tidak pernah merasa terkabul sama sekali. Ups, bisa jadi ketiga hal terbahas di atas adalah penyebabnya

 “Ud’uni astajib lakum—berdoalah kepada-Ku niscaya akan kukabulkan,” demikian janji Allah dalam al-Quran. Namun, apakah doa yang kita panjatkan pantas untuk terkabul, sementara kita malas saat harus memantaskan diri sebagai yang terbaik di hadapan Allah dan rasul-Nya?

Akhirnya, setiap doa pasti tekabulkan. Tetapi, persoalannya ada pada diri kita sendiri: Berdoa untuk apa. Dengan cara seperti apa. Dan yang paling penting, pantas atau tidakkah kita untuk doa tersebut. Jika tidak, ada pada dua kemungkinan: Doa tersebut ditolak. Atau ditunda dan akan dikabulkan Allah di waktu yang tepat—yang terbaik—menurut Allah untuk kita.

Demikianlah setiap detik adalah waktu terbaik untuk berdoa, untuk menyandarkan segala permintaan hanya kepada Allah semata. Berdoa, jelas, adalah ibadah. Karena dengan berdoa, secara langsung kita mengakui keberadaan Allah sebagai satu-satunya tempat bersandar dan meminta. Bersihkan hati, tubuh, dan sikap-ucap kita terlebih dahulu dari hal-hal yang mengundang kebencian Allah dan Rasul-Nya. Lalu berdoalah dengan baik, cara yang baik, tempat dan waktu yang baik, untuk hal-hal terbaik. Lantas, apa doa kita detik ini?

Allahumma shalli ‘ala sayyidina Muhammadin SAW. []

Leave a comment