PERINTAH

Kiki Musthafa

SELALU ada perintah di balik apa yang diberikan Allah kepada kita. Pun di setiap keadaan yang menyertai dan yang sedang terjadi. Hal sedemikian itu, banyaknya, taklah sepenuhnya tersadari. Kita biasanya terlebih dahulu larut dalam merespon apa yang didapat, yang hinggap, juga yang berlangsung di depan mata. Jelas memang sangatlah manusiawi. Namun, perkara menyadari adanya perintah di balik semua itu bukanlah hal sederhana. Konon, kepemilikan akan kesadaran termaksud adalah salah satu tanda dari seseorang yang istimewa.

Jika dalam Alquran dijelaskan bahwa pada setiap penciptaan langit dan bumi, bergantinya malam dan siang, terdapat tanda-tanda bagi orang yang berakal, maka menyadarkan diri terkait semua kejadian yang memutar di dalamnya adalah sebuah keharusan. Termasuk kesadaran akan perintah tertentu yang membersamai kejadian-kejadian tersebut. Termasuk hal paling dekat yang ada dalam perjalanan keseharian kita sejak pagi hingga malam dan pagi lagi. Dua puluh empat jam yang panjang untuk dimaknai bahwa setiap detik, menit, juga jamnya terdapat sebuah perintah yang harus kita lakukan Dimulai pagi saat membaca Alquran, kita berjumpa kisah dibinasakannya kaum Nabiyullah Luth As., semisal, ada perintah di sana yang bermula dari kejadian masa lalu bahwa hubungan seks sesama jenis tidak boleh dilakukan. Lalu, saat berjumpa dengan kisah Nabiyullah Yusuf As., yang dikerjai oleh saudara-saudaranya sendiri, tetapi beliau tidak membalas, ada perintah bahwa dendam bukanlah hal yang baik. Membaca kesabaran Nabiyullah Ayyub As., bahwa sabar adalah senjata paling ampuh untuk melawan kesulitan. Pun banyak kisah lain yang sejatinya ibrah dan memuat perintah tertentu. Terlebih dengan ayat yang secara langsung bernada amr.

Menjelang siang saat berada di tempat kerja. Tiba-tiba ada hal tertentu yang membuat kita merugi. Dagangan kita rusak dan memungkinkan menjadi tidak layak jual. Rekan bisnis kita kabur dengan membawa modal yang kita titipkan. Lalu—bagi karyawan—kita dipecat karena hal yang tidak pernah kita mengerti. Perintah yang ikut menyertai kejadian-kejadian tidak mengenakkan itu tentulah tak lepas dari hal terkait kedirian kita. Bisa jadi tentang bersabar. Sudah tentu tentang mengevaluasi diri dan tidak melulu menyalahkan pihak lain.

Tiba di waktu sore. Kita dibuat terhenyak saat tiba-tiba mendapatkan rezeki yang tidak terduga. Mungkin, membludaknya pemesan sehingga memungkinkan laba yang tidak terhitung. Mungkin pula reward dari perusahaan yang sebelumnya tidak terbayangkan. Intinya sesuatu yang membuat kita memiliki lebih. Di saat hal itu terjadi, berbagi adalah perintah yang tidak bisa disangkal lagi. Rezeki yang kita terima berbarengan dengan perintah membagi kepada mereka yang kekurangan. Ya, saat diberikan lebih maka harus mampu melebihkan orang lain.

Malam tiba dengan berita buruk. Seorang kawan, tetangga, rekan kerja, dikabarkan mengalami sesuatu yang menyesakkan. Ia bangkrut. Ia kecelakaan. Ia terkapar di rumah sakit. Ia berada dalam keadaan yang teramat sulit—sesuatu yang membuatnya tidak mampu melakukan apa pun tanpa bantuan pihak lain. Di saat yang sama, kita dalam keadaan baik-baik saja. Saldo di ATM kita terbilang cukup untuk bekal sehari-hari dan untuk waktu yang panjang ke depan. Badan kita bugar, sehat, juga kuat untuk melakukan banyak hal.

Apakah saat kita baik-baik saja tidak ada perintah untuk membuat orang lain baik pula? Apakah saat uang kita cukup tidak ada pula perintah untuk mencukupkan orang lain—paling tidak sedikit membantu dari keterhimpitan yang dialaminya? Apakah saat kita kuat lantas tidak turun pula perintah untuk menguatkan orang lain? Perintah itu ada, lalailah yang membuat kita lupa. Perintah itu ada, keangkuhanlah yang membuat kita pura-pura lupa. Ya, perintah itu ada dan kita akan tahu saat berada di posisi sulit lalu orang lainlah yang tampak sibuk melupakan. Allahumma shalli ‘ala Sayyidina Muhammadin wa ‘ala alihi wa shahbihi ajma’in.[]

Leave a comment